Apakah Benar Penghafal Surat Al-Mulk Jasadnya Tidak Hancur Dimakan Tanah?


Tanya : Apakah benar orang yang menghafalkan surat AL-Mulk, maka jika dia meninggal jasadnya akan utuh dan tidak hancur dimakan tanah?

Jawab : Wa’alaikumussalaam
Surat Al-Mulk memang memiliki banyak keutamaan/fadhilah sebagaimana yg disebutkan dalam hadits-hadits yang shohih.
Akan tetapi untuk keutamaan jika dihafalkan maka sang penghafal jika wafat maka jasadnya akan utuh, maka ini tidak ada dalam keutamaan-keutamaan Surat AL-Mulk yang disebutkan dalam hadits-hadits yang shohih. Bahkan ini hanya mengada-ada saja. Sehingga tidak benar perkataan itu.

Yang benar, sesuai berdasarkan hadits-hadits yang shohih, adalah akan diberi keutamaan keumuman dengan “DIHINDARKAN DARI ADZAB QUBUR” bukan dengan keutamaan perincian “JIKA SANG PENGHAFAL WAFAT MAKA JASADNYA AKAN UTUH”.

———————————- Mari kita lihat hadits berikut ini :
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة، منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر، وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها “المانعة”، وإنها في كتاب الله عز وجل سورة، من قرأ بها في ليلة فقد أكثر وأطاب. (رواه النسائي واللفظ له والحاكم وقال صحيح الإسناد وحسنه الألباني)ـ
Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa membaca surat Tabarokalladi bi yadihil mulk setiap malam, maka Alloh azza wajall menghindarkannya dari adzab kubur, dan dahulu kami (para sahabat) di saat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (masih hidup) menamainya “al-Mani’ah” (penghindar/penghalang).

Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabulloh, barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan” [HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya shohih, dan dihasankan oleh Albani] ———————————

Dan umumnya selain jasad para nabi, maka jasad manusia itu akan dimakan oleh bumi sebagaimana yg tersebut dalam hadits yg shohih.
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كُلَّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُ الْأَرْضُ، إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، مِنْهُ خُلِقَ، وَفِيهِ يُرَكَّبُ ”

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Qa’nabiy, dari Maalik, dari Abuz-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semua (jasad) anak Aadam akan dimakan tanah, kecuali tulang ekornya. Darinya ia diciptakan, dan darinya pula ia akan dihimpun kembali”

[Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4743; shahih]
—————————— Ada memang beberapa fenomena jasad orang sholih dan shohabat Rosululloh yang masih utuh dan penjelasan terperinci masalah ini bisa dilihat di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/11/fenomena-jasad-utuh-setelah-bertahun.html

Akan tetapi ini memang tdk secara langsung berhubungan dengan keutamaan surat Al-Mulk, karena umumnya adzab qubur itu lebih berkenaan dengan siksaan yang menimpa ruh seseorang, bukan jasadnya.

Dan memang ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa apakah adzab kubur itu akan menimpa ruh saja, ataukah kadang juga bersambung antara ruh dan jasad. Akan tetapi umumnya adzab qubur itu akan lebih menimpa kepada ruh walau terkadang juga berhubungan dengan jasad badan sang mayyit. dan secara umum semua jasad anak adam akan dimakan tanah sebagaimana hadits yg saya sebutkan sebelumnya.

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كُلَّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُ الْأَرْضُ، إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، مِنْهُ خُلِقَ، وَفِيهِ يُرَكَّبُ ”

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Qa’nabiy, dari Maalik, dari Abuz-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semua (jasad) anak Aadam akan dimakan tanah, kecuali tulang ekornya. Darinya ia diciptakan, dan darinya pula ia akan dihimpun kembali”
[Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4743; shahih]

Perincian lebih jelas akan perkataan ulama mengenai hal ini, bisa dilihat di : http://www.konsultasisyariah.com/apakah-adzab-kubur-itu-menimpa-jasad-atau-ruh/#axzz2I5NPgVlz Baarokalloohu fiik Walloohu a’lam bish showaab

I'm christian. But i love your Qur'an "said other Youtuber"

It's most beautiful recitation of Qur'an, beyond Mozart and other.  Please hear. You Will be next moslem. Or just listen for a while. 


DANILO PUNZAL
When ever i hear this prayer i feel peaceful and calm....i am a Christian by faith but i believe allah is the only god and there is no other god besides him and jesus is my prophet and mohamed is the last prophet that jesus was been talking about....islam will always have a big part of my heart my soul and my life...


NORY ALFONFELD
I'm an Atheist, don't believe in religion, but I must say this is mesmerizing and truly beautiful 

BEREX TESFAI im christian, but the voice is so relaxing MARY SAM I was listening to this recitation when my baby first kicked during pregnancy.. and even now she sleeps calmly listening to this..may Allah bless the recite PEACE LOVE I'm not Muslim but I love the prayers even if I can't understand anything.. I love you all and it breaks my heart when people insult Muslims.. TaMaMa KEY my baby fall asleep too, makes him very calm Marz_ Productionz I'm not a Muslim,but I love ur religion,I am deciding to convert to Islam jean kazama as a christian i enjoy listening to koran.sometimes i feel i should become a moslem. Golu Malik I am Hindu And Liked it

JUST HEAR AND LISTEN IT



Mengapa Ka'bah Dijadikan Kiblat Orang Islam?

"Sungguh kami melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi al-Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan" (Q.S Al- Baqarah : 144)



Jika bicara tentang Mekah, kita pasti teringat sebuah bangunan berbentuk kubus yang dijadikan arah kaum muslimin untuk menghadapkan wajahnya dalam melakukan shalat. Bangunan yang disebut Ka'bah ini merupakan tempat peribadatan yang paling terkenal dalam islam dan biasa disebut Baitullah.

Ka'bah dijadikan sebagai kiblat umat islam ketika melakukan sholat. Secara etimologi, kata kiblat berasal dari bahasa arab قبلة yaitu salah satu bentuk masdar (kata dasar) dari kata kerja قبل, يقبل yang berarti menghadap. 

Al-manawi dalam kitabnya at-tauqif al-muhimmat at-ta'rif menjelaskan bahwa "kiblat" adalah segala sesuatu yang ditempatkan di muka, atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya. jadi secara harfiah kiblat mempunyai pengertian arah kemana orang menghadap. oleh karena itu ka'bah disebut sebagai kiblat karena ia menjadi arah yang kepadanya orang harus menghadap dalam mengerjakan shalat.

Ka'bah disebut juga dengan Baitullah, Baitul Haram, Baitul Atiq atau rumah tua yang dibangun kembali Oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail atas perintah Allah SWT. Dalam The Encyclopedia of Religion dijelaskan bahwa bangunan ka'bah merupakan bangunan yang dibuat dari batu granit, Ka'bah yang kemudian dibangun menjadi bangunan berbentuk kubus dengan tinggi kurang lebih 16 meter, panjang 13 meter dan lebar 11 meter. batu-batu yang dijadikan bahan bangunan Ka'bah saat itu diambil dari lima gunung: Yakni gunung Sinai, Judy, Hira, Olivet dan Lebanon.

Landasan Hukum Menghadap Kiblat
Diantara ayat Qur'an yang menjelaskan mengenai dasar hukum menghadap kiblat yaitu firman Allah:

"Sungguh kami melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi al-Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan" (Q.S Al- Baqarah : 144)

kemudian di ayat yang lain:
"dan darimana saja kamu datang maka palingkanlah wajahmu ke arah masjidil haram, dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yanf dhalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepadaKU. dan agar kusempurnakan NikmatKu atas kami dan supaya kamu dapat petunjuk. (Q.S al-Baqarah : 150)

ditetapkannya Ka'bah sebagai arah kiblat dalam ritual ibadah dimaksudkan untuk pernyataan sebagai bentuk Keta'atan kepada perintah Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 142:

"Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: Apakah yang memalingkan mereka (umat islam) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?, katakanlah: kepunyaan Allah timur dan barat, dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya ke jalan yang lurus" 

Ayat ini menepis anggapan orang-orang yang kurang fikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah. dalam sejarahnya ketika Rasulullah SAW berada di Mekah ditengah tengah kaum Musyrikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis. Tetapi setelah 16 atau 17 bulan Nabi berada di Madinah di tengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani, beliau di perintahkan Allah SWT untuk menjadikan Ka'bah sebagai kiblat, terutam sekali untuk memberi pengertian bahwa ibadah dalam shalat arah Baitul Maqdis dan Ka'bah bukanlah menjadi tujuan, tetapi Allah SWT menjadikan Ka'bah sebagai kiblat persatuan umat Islam.

Disamping dasar hukum menghadap kiblat yang tertuang dalam al-Qur'an sebagai sumber hukum pertama, banyak hadits yang berkaitan dengan sikap, ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW  sebagai penjelas dan aplikasi perintah menghadap kiblat dalam al-Qur'an. diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Tsabit bin Anas beliau berkata: "sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu hari sedang sholat dengan menghadap Baitul Maqdis, kemudian turunlah ayat: "Sungguh kami melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram.". Kemudian ada seseorang dari Bani Salamah bepergian, menjumpai sekelompok sahabat sedang ruku pada shalat fajar. lalu ia menyeru "Sesungguhnya kiblat telah berubah". Lalu mereka berpaling seperti kelompok nabi, yakni ke arah kiblat (H.R. Muslim). Juga hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: "Menghadaplah ke kiblat, lalu takbirlah".

Pada umumnya para ulama bersepakat tentang ka'bah sebagai kiblat seluruh umat islam, akan tetapi terdapat perbedaan pendapat, terutama pada teritorial yang jauh dari Ka'bah. pendapat pertama mengatakan bahwa dimanapun umat Islam berada, baik dekat maupun jauh dari ka'bah, mereka wajib menghadap bentuk fisik ka'bah. Pendapat ini didukung oleh Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal. Sedangkan pendapat kedua merekomendasikan bahwa umat islam cukup menghadap ke arah Ka'bah saja. pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah dan Malik bin Anas. titik temu dari kedua pendapat ini ialah: bagi umat Islam yang teritorialnya mampu melihat fisik Ka'bah, maka cara menghadapnya adalah menghadap bentuk fisik Ka'bah. sedangkan bagi yang jauh dan tidak dapat melihat bentuk fisik ka'bah maka diperkenankan untuk persis menghadap ka'bah secara yaqiinan (yakin) tetapi paling tidak secara Dhzannan (dugaan kuat). hal ini diperkuat dengan dalil hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi: "Baitullah kiblat bagi penghuni masjidil haram, Masjidil HAram kiblat bagi penghuni tanah Haram, Tanah HAram kiblat bagi penduduk bumi di penjuru timur dan barat dari umatku". (H.R. Baihaqi). Demikian Wallahu a'lam.

Ilmu Dasar Tafsir al-Qur'an


SEBELUM ANDA INGIN MENAFSIRKAN AL QUR'AN, KUASAI DULU 15 BIDANG ILMU BERIKUT INI :
1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.
.
2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
.
3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata), Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:
“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71)
Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
.
4. Imu Isytiqaq (akar kata, Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
.
5. Ilmu Ma’ani, Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
.
6. Ilmu Bayaan, Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
.
7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.
.
8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
.
9. Ilmu Aqa’id, Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:
“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)
.
10. Ushu l Fiqih, Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil
dan menggali hukum dari suatu ayat.
.
11. Ilmu Asbabun-Nuzul, Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
.
12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.
.
13. Ilmu Fiqih, Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
.
14. Ilmu Hadist, Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
.
15. Ilmu Wahbi, Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,
“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui."

Adab Membaca Qur'an


Dianjurkan bagi orang yang membaca Qur'an memperhatikan hal-hal seperti berikut:
  1. Membaca Qur'an sesudah berwudhu, karena ia termasuk zikir yang paling utama meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadas
  2. Membacanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan membaca Qur'an
  3. Membacanya dengan Khusu', tenang dan penuh hormat
  4. Bersiwak (membersihkanmulut sebelum mulai membaca)
  5. Membaca Ta'awwudz ('A'udzu billahi minasy Syaitoonir rajiim) pada permulaannya.
  6. Membaca Basmalah pada permulaan tiap surat kecuali surat Bara'ah, sebab basmalah termasuk salah satu ayat Qur'an menurut pendapat yang kuat
  7. Membacanya dengan tartil, yaitu membaca dengan perlahan dan terang serta memberikan kepada setiap huruf akan haknya seperti membaca panjang dan idgam
  8. Memikirkan ayat-ayat yang dibacanya, yaitu dengan mengkonsentrasikan hati untuk memikirkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya
  9. Meresapi makna dan maksud ayat-ayat Qur'an, yang berhubungan dengan janji dan ancaman.
  10. Membaguskan suara membaca Qur'an.
  11. Mengeraskan bacaan Qur'an. Karena dengan suara Jahar lebih utama.
Menurut Ulama, ada perbedaan pendapat tentang membaca qur'an dengan melihat langsung pada Mushaf dan membacanya dengan hafalan, manakah yang lebih utama? dalam hal ini ada 3 pendapat. yang pertama, membaca langsung dari mushaf adalah lebih utama, sebab melihat kepada mushaf pun merupakan ibadah. oleh karenanya membaca dengan melihat itu mencakup dua ibadah. yang kedua, membaca dengan hafalan adalah lebih utama, karena hal ini akan mendorong kepada perenungan dan pemikiran makna dengan baik. Ketiga, bergantung kepada situasi dan kondisi individu. apabila membaca dengan hafalan lebih menimbulkan perasaan khusyu', pemikiran, perenungan dan konsentrasi terhadap ayat-ayat yang dibacanya maka membacanya dengan hafalan lebih utama, Tapi bila keduanya sama, maka membaca dari mushaf lebih utama. Demikian Wallahu a' lam