About me

Bismillah, Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul Muhammad SAW yang telah memperkenal Qur'an kepada kita semua sebagai pedoman hidup yang merasuk kesegenap kehidupan kita, mulai dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari, mulai dari kehidupan berumah tangga sampai kehidupan politik bernegara.

-Deen M Fawzy-

Blog ini dikelola karena kekhawatiran akan keadaan diri sendiri yang mulai terjauhkan dengan al-Qur'an karena kesibukan yang ada. menulis beberapa hal tentang al-Qur'an adalah salah satu bagaimana cara saya mengingat dan mempelajari al-Qur'an.

Audiens dari blog ini merupakan salah satu motivator terbaik agar saya dapat terus mengelola blog ini dengan baik. kedepan blog ini akan saya jadikan .com jika menurut pandangan saya sudah pantas di jadikan sebagai website dengan ekstensi.com

Selain dari itu, dalam perjalanan saya, kadang singgah di beberapa masjid yang berbeda, bisa saya dengarkan dan saya perhatikan, banyak sekali imam masjid yang kurang bagus bacaannya. hal ini membuat saya terdorong untuk terus memperbaiki konten blog ini dengan harapan agar menarik pembaca dan bersemangat untuk belajar membaca al-Qur'an.

Saya belajar Qur'an pertama kali kepada Ayah saya yang bernama Mubin Fauzi (Pendiri sekolah yayasan al-Mustaqim-Bogor) bin KH. Syafi'i (Pendiri Pondok Pesantren as-Syafi'iyah - Sukabumi) bin KH. Ahmad Sanusi (Pendiri pesantren Gunung Puyuh - Sukabumi). Khusus KH. Ahmad Sanusi, pada tahun 1910 berangkat ke Mekah untuk belajar Ilmu agama Islam  dan beliau berguru kepada Syeikh Saleh Bafadil, Syaikh Maliki, Syaikh Ali Thayib, Haji Muhammad Junaedi, Haji Abdullah Jawani, Haji Mukhtar, Syaikh Katib al Minangkabawi. dah akhirnya mudah mudahan sanad (riwayat belajar qur'an) sampai Rasulullah Muhammad SAW yang mengajarkan bacaan al-Qur'an kepada sahabatnya dan sampai kepada kita sekarang.

Salain itu, saya juga belajar al-Qur'an kepada Guru saya Ustdz. Abi Dzar sebagai Kyai di Pondok Pesantren Ummul Qura - Bogor. melalui pesantren itu pula saya berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan untuk Biaya Sekolah diluar pesantren.

Saya juga sempat mengenyam pendidikan Strata 1 di UIN Syarif hidayatullah di Fakultas Syari'ah. secara keilmuan, pengetahuan saya sangat jauuuh, jauhh sekali dari kata cukup. namun mengingat banyak sekali saya mendengar bacaan qur'an imam-imam masjid yang kurang benar, saya berniat mengamalkan ilmu pengetahuan saya walaupun hanya 1 ayat.

Wallahu'alam. Allah yang maha benar atas segala Kalam nya.






Belajar Membaca al-Qur'an


Kesibukan dan keterbatasan waktu serta pengetahuan orang tua dalam memahami bacaan Al-Qur’an membuat keluarga muslim Indonesia kurang banyak memberikan pembelajaran di rumah kepada anak-anaknya tentang pentingnya belajar membaca Al Qur’an secara tartil.

Kami bersedia meluangkan waktu untuk sama-sama mempelajari cara membaca al-Qur'an dengan baik. Hadirnya kami diharapkan menjadi solusi yang efektif dalam membantu proses belajar mengajar membaca dan memahami Al qur’an dengan baik dan benar dan juga secara tartil.


obyek kami adalah untuk segala umur, mulai dari anak kecil, remaja hingga orang tua. Tujuan kami adalah membantu semua muslim untuk bisa membaca al-Qur'an.

▪ 85% penduduk Indonesia memeluk agama Islam, Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

▪ 64% umat Islam di Indonesia buta huruf Al Qur’an

▪ Hanya 20% dari imam masjid di Indonesia yang benar bacaan tajwid Al Qur’an- nya.

(Sumber : Institut Ilmu Al Qur’an)

Berdasarkan data tersebut, kami mempunyai rasa tanggung jawab untuk membantu memberantas buta huruf Al Qur’an melalui metode yang benar

Misi kami adalah mengajak seluruh umat muslim untuk mulai belajar dan memahami Al Qur’an dimulai dari lingkungan terdekatnya, seperti rumah tangga, karena rumah adalah tempat berkumpulnya keluarga, sehingga orang tua bisa memaksimalkan peran orang tua dalam memberikan pengajaran Al Qur’an di lingkungan tempat tinggal.

Apakah Anda... 
1. Masih terbata-bata membaca Al Qur’an 
2. Merasa malu karena faktor usia 

waktu yang kami sediakan adalah senin sampai dengan sabtu malam 

Oleh karenanya, besar harapan kami untuk dapat merealisasikan hal tersebut 
untuk anda dapat menghubungi nomor saya sendiri sebagai pengelola blog ini 085718530054

Qira'at Qur'an dan Para Ahlinya


Menurut istilah ilmiah, Qira'at adalah salah satu aliran pengucapan qur'an yang dipilih Oleh salah satu ima Qurra' sebagai suatu madzhab yang berbeda dengan madzhab lainnya. qira'at ini ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah. Periode qurra' (Imam Qira'at) yang mengajarkan bacaan al-Qur'an kepada orang-orang menurut cara mereka masing-masing adalah dengan berpedoman kepada masa sahabat. Diantara sahabat yang terkenal mengajarkan qira'at adalah Ubai, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas'ud, Abu Musa al-Asy'ari. dari mereka itulah sebagian besar sahabt dan tabi'in di berbagai negeri belajar Qira'at. Mereka semua bersandar kepada Rasulullah.

Adz'-Dzahabi menyebutkan dalam Tabaqatul Qurra, bahwa sahabat yang terkenal sebagai guru dan ahli Qiraa'at ada tujuh orang, yaitu: Utsman, Ali, Ubai, Zaid bin Tsabit, Abu Darda' dan Abu Musa al-Asy'ari. Lebih lanjut ia menjelaskan, segolongan besar sahabat mempelajari qira'at dari ubai diantaranya: Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Abdullah bin Sa'ib. Ibn abbas belajar pula kepada Zaid. Kemudian kepada para sahabat itulah sejumlah besar tabi'in di setiap negeri mempelajari qira'at.

diantara para tabi'in tersebut ada yang tinggal di Madinah yaitu Ibnul Musayyab, 'Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman ibn Yasar, Ata' ibn Yasar, Muadz bin Harits, Abdurrahman bin Hurmuz, Ibn Syihab Az-Zuhri, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam.

Adapun yang tinggal di Mekah ialah, 'Ubaid bin Umar, Ata' bin Rabbah, Tawua, Mujahid, Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.

Tabi'in yang tinggal di Kufah ialah A'qamah, Al-Aswad, Masruq, 'Ubaidah, 'Amr bin Syurahbil, al-Harits bin Qais, Amr bin Maimun, Abu Abdurrahman as-Sulami, Sa'id bin Jabir, an-Nakha'i dan asy-Sya'bi

Tabi'in yang tinggal di Basrah Ialah Abu Aliyah, Abu Raja', Nasr bin 'Asim, Yahya bin Ya'mar, al-Hasan, Ibn Siri dan Qatadah. sedang yang tinggal di Syam ialah Mughirah bin Abu Syihab al-Makhzumi - Murid Usman dan Khalifah bin Sa'd (Sahabat abu Darda')

Dari Generasi ini dan generasi sesudahnya terdapat tujuh orang terkenal sebagai imam yang dihubungkanlah kepada mereka qira'at hingga saat ini. Para ahli qira'at tersebut di Medinah ialah: Abu Ja'far YAzid Qa'qa, Nafi' bin Abdurrahman, Ahli Qira'at di Mekah ialah: Abdullah bin Kasir, Humaid bin Qais al-A'raj. Di Kufah: 'Asim bin Abun Najud, Sulaiman al-A'masy, Kemdudian Hamzah dan al-Kisa'i. di Basrah: Abdullah bin Abu Ishaq, Isa bin 'Amr, Abu 'Amr 'Ala', 'Asim al-Jahdari dan Ya'qub al-Hadrami. di Syam: Abdullah bin 'amir, Isma'il bin Abdullah bin Muhajir, Yahya bin Haris dan Syuraih bin Yazid al-Hadrami. diantara nama-nama tersebut diatas, yang paling terkenal diseluruh dunia adalah Abu 'Amr, Nafi', 'Asim, Hamzah, al-Kisa'i dan Ibn Kasir.

Turunnya Al-Qur'an Dengan 7 Huruf


Orang arab mempunyai aneka ragam Lahjah (dialek). setiap suku mempunyai irama tersendiri dalam mengucapkan kata-kata yang tidak dimiliki oleh kabilah-kabilah lain. Namun kaum Quraisy mempunyai faktor-faktor yang menyebabkan bahasa mereka lebih unggul diantara cabang-cabang bahasa arab lainnya yang antara lain karena tugas mereka menjaga Baitullah, menjamu para jemaah haji, memakmurkan masjidil haram dan menguasai perdagangan. Oleh sebab itu, semua suku bangsa Arab menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa induk bagi bahasa-bahasa mereka karena adanya karakteristik tersebut.

Apabila orang Arab berbeda lahjah dalam pengungkapan sesuatu makna dengan beberapa perbedaan tertentu, maka qur'an yang diwahyukan Allah kepada RAsulnya Muhammad SAW menyempurnakan makna kemukjizatannya karena ia mencakup semua huruf dan dan wajah qiraah pilihan diantara lahjah-lahjah itu. dan ini merupakan salah satu sebab yang memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.

Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah bersabda: Jibril membacakan Qur'an untukku dengan satu huruf. kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan Tujuh Huruf.

Riwayat lain dai Ubai bin Ka'ab mengakatan: "Ketika Nabi berada dekat parit bani Gafar, ia didatangi JIbril seraya mengatakan: "Allah memerintahkan mu agar membacakan Qur'an kepada umatmu dengan satu huruf." Ia menjawab: 'Aku memohon kepada Allah ampunan dan magfirahnya, karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu.' Kemudian JIbril datang lagi untuk yang keduakali nya dan berkata:'Allah memerintahkanmu agar membacakan Quran kepada umatmu dengan dua huruf.' Nabi menjawab: 'Aku memohon kepada Allah ampunan dan Magfirahnya, umatku TIdak kuat melaksanakannya.' Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu mengatakan: 'Allah memerintahkanmu agar membacakan Quran kepada umatmu dengan tiga huruf.' Nabi menjawab: 'Aku memohon kepada Allah ampunan dan Magfirahnya, umatku TIdak kuat melaksanakannya.' Kemudia Jibril datang lagi untuk yang ke empat kalinya seraya berkata: 'Allah memerintahkan kepadamu agar membacakan Quran kepada umatmu dengan Tujuh Huruf, dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka tetap benar.

Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: "Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?". Ia menjawab: "Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku", aku menyela: "Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini". Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku". Rasulullah SAW menjawab: "Hai Umar! lepaskan dia. "Bacalah Hisyam!". Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: "Begitulah surat itu diturunkan" sambil menyambung sabdanya: "Bahwa Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!".
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: "Begitulah bacaan itu diturunkan".

Hadis-hadis yang berkenaan dengan hal itu amat banyak jumlahnya dan sebagian besar telah diselidiki oleh ibnu jarir di dalam pengantar tafsirnya. As Suyuti menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut diriwayatkan dari duapuluh orang sahabat. Abu Ubaid al-Qasim bin salam menetapkan kemutawatiran hadis mengenai turunya al-Quran.

Perbedaan Pendapat Tentang Pengertian Tujuh Huruf
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah Tujuh Macam Bahasa dari Bahasa-Bahasa Arab mengenai satu makna dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Quran pun diturunkan dengan sejumlah Lafadz sesuai dengan ragam bahasa tersebut. dikatakan bahwa ke tujuh bahasa itu adalah Bahasa Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, RAbi'ah Hawazin dan Sa'd bin Bakar.

Sebagian lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Tujuh Huruf adalah Tujuh Macam Bahasa dari Bahasa-Bahasa Arab dengan mana Qur'an diturunkan, dengan pengertian bahwa kata-kata dalam Qur'an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi yaitu Bahasa yang faling fasih diantara ke tujuh bahasa meskipun sebagian besarnya dalam bahasa Quraisy. Sedang sabagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, TAmim atau Yaman. Karena itu secara keseluruhan Qur'an mencakup Ke tujuh bahasa tersebut.

Sebagian Ulama Lagi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh Huru ialah tujuh wajah, yaitu : Amr (Perintah), Nahyu (Larangan), Wa'd (Janji), Wa'id (Ancaman), Jadal (Perdebatan), Qasas (Cerita) dan Matsal (Perumpamaan).

Segolongan yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Tujuh Huruf dalah tujuh macam hal yang didalamnya terjadi Ikhtilaf, yaitu: 1. Ikhtilaful Asma (Perbedaan Kata Benda) 2. Perbedaan Segi I'rab (harakat Akhir Kata) 3. Perbedaan dalam Tasrif  4. Perbedaan Taqdim 5. Perbedaan dalam segi Ibdal 6. Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan 7. perbedaan lahjah seperti Tafhim dan Tarqiq 

Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah Qira'at Tujuh

Surat Al-Maidah 51-53

Berhubung arus informasi yang sedang bergejolak tentang surat al-maidah. kiranya tafsir ayat ini dimajukan di awal. silahkan baca baik-baik dengan seksama.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di anta­ra kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S Almaidah 51)

Allah Swt. melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin mengangkat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali mereka, karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya; semoga Allah melaknat mereka. Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.

Riwayat yang berkaitan
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Syihab, telah menceritakan kepada kami Muhammad (Yakni Ibnu Sa'id ibnu Sabiq), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Sammak ibnu Harb, dari Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al Asyari untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikannya (yakni pemasukan dan pengeluarannya) dalam suatu catatan lengkap. Dan tersebutlah bahwa yang menjadi sekretaris Abu Musa saat itu adalah seorang Nasrani. Kemudian hal tersebut dilaporkan kepada Khalifah Umar r.a. Maka Khalifah Umar merasa heran akan hal tersebut, lalu ia berkata, "Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari negeri Syam?" Abu Musa Al-Asy'ari menjawab, "Dia tidak dapat melakukannya." Khalifah Umar bertanya, "Apakah dia sedang mempunyai jinabah?" Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani." Maka Khalifah Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu berkata, "Pecatlah dia." Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman Allah Swt.: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah mencerita­kan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Atabah pernah berkata, "Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak menyadarinya." Menurut Muhammad ibnu Sirin, yang dimaksud olehnya menurut dugaan kami adalah firman Allah Swt. yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah : 51), hingga akhir ayat.

telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Asim, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah ditanya mengenai sembelihan orang-orang Nasrani Arab. Maka ia menjawab, "Boleh dimakan." Allah Swt. hanya berfirman: Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51) Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abuz Zanad

Maka kami akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana, " Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Q.S. Al-Maidah 52)
di ayat 52 Allah Menyatakan : kami mengetahui bahwa orang-orang munafik akan segera mendekati orang yahudi dan nasrani dan berteman akrab dengan mereka sambil mengatakan "kami takut akan mendapat bencana". Yakni mereka melakukan demikian dengan alasan bahwa mereka takut akan terjadi suatu perubahan, yaitu orang-orang kafir beroleh kemenangan atas kaum muslim. Jika hal ini terjadi, berarti mereka akan memperoleh perlindungan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, meng­ingat orang-orang Yahudi dan Nasrani mempunyai pengaruh tersendiri di kalangan orang-orang kafir, sehingga sikap berteman akrab dengan mereka dapat memberikan manfaat ini. kemudian dijawab di kalimat berikutnya Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka
Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan, "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kalian?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. (Al-Maidah: 53)
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatar belakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal."Sedangkan yang lainnya menyatakan, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya." Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.

Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir ketika Rasulullah Saw. mengutusnya kepada Bani Quraizah, lalu mereka bertanya kepadanya, "Apakah yang akan dilakukan olehnya terhadap kami?" Maka Abu Lubabah mengisya­ratkan dengan tangannya ke arah tenggorokannya, yang maksudnya bahwa Nabi Saw. akan menyembelih mereka. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Menurut pendapat yang lain. ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Jarir: bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis berikut dari Atiyyah ibnu Sa'd, bahwa Ubadah ibnus Samit dari Banil Haris ibnul Khazraj datang kepada Rasulullah Saw., lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai teman-teman setia dari kalangan orang-orang Yahudi yang jumlah mereka cukup banyak. Dan sesungguhnya saya sekarang menyatakan berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari mengambil orang-orang Yahudi sebagai teman setia saya, dan sekarang saya berpihak kepada Allah dan Rasul-Nya." Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata, "Sesungguhnya aku adalah seseorang yang takut akan mendapat bencana. Karenanya aku tidak mau berlepas diri dari mereka yang telah menjadi teman-teman setiaku." Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah ibnu Ubay, "Hai Abul Hubab, apa yang engkau pikirkan, yaitu tidak mau melepaskan diri dari berteman setia dengan orang-orang Yahudi, tidak seperti apa yang dilakukan oleh Ubadah ibnus Samit. Maka hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk Ubadah." Abdullah ibnu Ubay berkata, "Saya terima." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51), hingga dua ayat berikutnya.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abdur Rahman, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa ketika kaum musyrik mengalami kekalahan dalam Perang Badar, kaum muslim berkata kepada teman-teman mereka yang dari kalangan orang-orang Yahudi, "Masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian suatu bencana seperti yang terjadi dalam Perang Badar." Malik ibnus Saif berkata, "Kalian telah teperdaya dengan kemenangan kalian atas segolongan orang-orang Quraisy yang tidak mempunyai pengalaman dalam peperangan. Jika kami bertekad menghimpun kekuatan untuk menyerang kalian, maka kalian tidak akan berdaya untuk memerangi kami." Maka Ubadah ibnus Samit berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguh­nya teman-teman sejawatku dari kalangan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang berjiwa keras, banyak memiliki senjata, dan kekuatan mereka cukup tangguh. Sesungguhnya aku sekarang berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan orang-orang Yahudi. Sekarang bagiku tidak ada pemimpin lagi kecuali Allah dan Rasul-Nya." Tetapi Abdullah ibnu Ubay berkata, "Tetapi aku tidak mau berlepas diri dari berteman sejawat dengan orang-orang Yahudi. Sesungguhnya aku adalah orang yang bergantung kepada mereka." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Abul Hubab, bagaimanakah jika apa yang kamu sayangkan, yaitu berteman sejawat dengan orang-orang Yahudi terhadap Ubadah ibnus Samit, hal itu hanyalah untukmu, bukan untuk dia?" Abdullah ibnu Ubay menjawab, "Kalau begitu, aku bersedia menerima­nya." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian). (Al-Maidah: 51) sampai dengan firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadanya Asim ibnu Umar ibnu Qatadah yang mengatakan bahwa lalu Rasulullah Saw. mengepung mereka hingga mereka menyerah dan mau tunduk di bawah hukumnya. Lalu bangkitlah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul kepada Rasulullah, setelah Allah memberikan kemenangan kepadanya atas mereka. Kemudian Abdullah Ibnu Ubay ibnu Salul berkata, "Hai Muhammad, perlakukanlah teman-teman sejawatku itu dengan baik, karena mereka adalah teman-teman sepakta orang-orang Khazraj." Rasulullah Saw. tidak melayaninya, dan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata lagi, "Hai Muhammad, perlakukanlah teman-teman sejawatku ini dengan baik. Tetapi Rasulullah Saw. tidak mempedulikannya. Kemudian Abdullah ibnu Ubay memasukkan tangannya ke dalam kantong baju jubah Nabi Saw., dan Nabi Saw. bersabda kepadanya.”Lepaskanlah aku!" Bahkan Rasulullah Saw. marah sehingga kelihatan roman muka beliau memerah, kemudian bersabda lagi, "Celakalah kamu, lepaskan aku. Abdullah ibnu Ubay berkata, "Tidak, demi Allah, sebelum engkau bersedia akan memperlakukan teman-teman sejawatku dengan perlakuan yang baik. Mereka terdiri atas empat ratus orang yang tidak memakai baju besi dan tiga ratus orang memakai baju besi, dahulu mereka membelaku dari ancaman orang-orang yang berkulit merah dan berkulit hitam yang selalu mengancamku, sesungguhnya aku adalah orang yang takut akan tertimpa bencana." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Mereka kuserahkan kepadamu."

Muhammad ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq ibnu Yasar, dari Ubadah ibnul Walid ibnu Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa ketika Bani Qainuqa' memerangi Rasulullah Saw., Abdullah ibnu Ubay berpihak dan membela mereka, sedangkan Ubadah ibnus Samit berpihak kepada Rasulullah Saw. Dia adalah salah seorang dari kalangan Bani Auf ibnul Khazraj yang juga merupakan teman sepakta Bani Qainuqa', sama dengan Abdullah ibnu Ubay. Ubadah ibnus Samit menyerahkan perkara mereka kepada Rasulullah Saw. dan berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan mereka. Lalu ia mengatakan, "Wahai Rasulullah, saya berlepas diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari berteman dengan mere­ka; dan sekarang saya berpihak kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin; saya pun menyatakan lepas dari perjanjian saya dengan orang-orang kafir dan tidak mau lagi berteman dengan mereka." Berkenaan dengan dia dan Abdullah ibnu Ubay ayat-ayat ini diturunkan,- yaitu firman Allah Swt. yang ada di dalam surat Al-Maidah: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. (Al-Maidah: 51) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al-Maidah: 56)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Usamah ibnu Zaid yang menceritakan bahwa ia pernah bersama dengan Rasulullah Saw. menjenguk Abdullah ibnu Ubay yang sedang sakit. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya: Aku pernah melarangmu jangan berteman dengan orang-orang Yahudi. Tetapi Abdullah ibnu Ubay menjawab, "As'ad ibnu Zararah pernah membenci mereka, dan ternyata dia mati."
demikian